;
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Keberhasilan Menjuarai Perancis Terbuka, Li Na Dapat Penghargaan dari China

Keberhasilan Menjuarai Perancis Terbuka, Li Na Dapat Penghargaan dari China. Petenis putri nomor satu China yang pada tahun ini menorehkan tinta emas dalam sejarah tenis Asia mendapat penghargaan dari pemerintah setempat. Li Na, yang menjadi orang Asia pertama yang menjuarai tunggal putri sebuah grand slam ketika memenangi Perancis Terbuka bulan lalu juga menerima cek senilai 92.000 dollar (sekitar Rp 784,760 juta).

Pemerintah Provinsi Hubei, yang merupakan daerah asal Li Na, sangat bangga dengan prestasi petenis berusia 29 tahun tersebut. Mereka menilai Li Na sebagai seorang pionir dan pahlawan setelah menaklukkan Francesca Schiavone di final Roland Garros, sehingga sejumlah uang kembali digelontorkan, yaitu senilai 600.000 yuan.

"Saya benar-benar merasa bahwa kesuksesanku ini bukan cuma milikku, tetapi juga bagi negaraku," ujar Li Na, yang juga mengantongi hadiah uang 1,65 juta dollar AS (sekitar Rp 14,074 miliar) karena menjadi juara, seperti dikutip agen berita Xinhua, Selasa (5/7/11).

"Tanpa dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan semua pelatihku, saya tentu saja tidak bisa melakukan ini."

Li Na mencapai ranking tertinggi dalam kariernya, yaitu masuk peringkat empat WTA, setelah menjuarai grand slam lapangan tanah liat tersebut. Tetapi setelah itu, peringkatnya turun ke urutan enam karena terlalu cepat tersingkir di Wimbledon yang baru selesai akhir pekan lalu. Di grand slam lapangan rumput tersebut, Li Na tersingkir di babak kedua setelah ditaklukkan petenis Jerman, Sabine Lisicki.

Sepanjang tahun 2011 ini, Li Na berhasil mengumpulkan uang senilai 3,16 juta dollar AS (sekitar Rp 26,954 miliar). Jumlah tersebut lebih banyak diperoleh karena prestasinya menjuarai Perancis Terbuka dan menembus final Australia Terbuka. Artinya, penghasilan tersebut hanya kurang dari separuh pendapatannya sebesar 6,5 juta dollar AS (sekitar Rp 55,445 miliar) selama kariernya.


Hasil Perancis Terbuka 2011 Rafael Nadal vs Roger Federer 5 Juni 2011


Hasil Perancis Terbuka 2011 Rafael Nadal vs Roger Federer 5 Juni 2011. Rafael Nadal sukses mempertahankan gelar juara Perancis Terbuka. Pada final di Roland Garros, Minggu (5/6/11), si "Raja Lapangan Tanah Liat" itu menang 7-5, 7-6(3), 5-7, 6-1 atas rival klasiknya dari Swiss, Roger Federer. Dengan demikian, secara keseluruhan Nadal sudah mengoleksi 6 gelar Perancis Terbuka, sekaligus menyamai prestasi petenis legendaris Swedia, Bjorn Borg.


Si kidal asal Spanyol ini merajai grand slam lapangan tanah merah tersebut sejak 2005 hingga sekarang. Dia hanya satu kali gagal pada 2009, ketika disingkirkan Robin Soderling di perempat final--waku itu Federer yang jadi juara.


Atas hasil ini, Nadal total sudah mengoleksi 10 gelar grand slam, sedangkan Federer masih tertahan di angka 16--dan tercatat sebagai petenis paling sukses. Namun rekor pertemuan Federer dengan petenis nomor satu dunia itu kian buruk, karena kini Nadal unggul 17-8. Sedanngkan untuk head-to-head di "clay", Nadal kian dominan dengan keunggulan 12-2.


Rekor di clay itu termasuk pada final Perancis Terbuka 2006-2008, serta semifinal Perancis Terbuka 2005.


Hasil Perancis Terbuka 3 Juni 2011 Rafael Nadal vs Andy Murray, Nadal Ke Final

Hasil Perancis Terbuka 3 Juni 2011 Rafael Nadal vs Andy Murray, Nadal Ke Final. Rafael Nadal hanya perlu selangkah lagi untuk mempertahankan gelar juara Perancis Terbuka. Petenis kidal asal Spanyol ini melaju ke final grand slam lapangan tanah merah tersebut, setelah di semifinal, Jumat (3/6/11), menang straight set 6-4, 7-5, 6-4 atas unggulan keempat dari Inggris, Andy Murray.

Kini, Nadal menunggu pemenang antara unggulan kedua dari Serbia, Novak Djokovic, dengan unggulan ketiga dari Swiss, Roger Federer, untuk bertarung di final, Minggu (5/6/11). Pemain nomor satu dunia ini hanya perlu satu kemenangan lagi untuk merengkuh gelar keenam di Roland Garros, dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.

Nadal hanya gagal menjadi juara di grand slam ini pada 2009. Waktu itu, langkahnya terhenti di perempat final karena ditaklukkan petenis Swedia, Robin Soderling, yang akhirnya ditaklukkan Federer di final. Padahal, pada tahun tersebut Nadal mengincar kemenangan kelima secara berturut-turut.

Namun musim lalu, Nadal kembali berjaya lagi di lapangan tanah merah yang menjadi spesialisasinya untuk merengkuh gelar kelima. Jika menjadi juara lagi, maka "raja lapangan tanah liat" ini menyamai prestasi petenis legendaris Swedia, Bjorn Borg, yang enam kali menyabet trofi di Roland Garros.

Dalam pertandingan melawan Murray yang berdurasi 3 jam 17 menit ini, Nadal bermain sangat sabar dari baseline. Kerja keras dan semangat pantang menyerah, membuat peraih sembilan gelar grand slam ini bisa mengejar ke mana pun bola pemberian Murray, sehingga pada set pertama dia dengan cepat memimpin 5-1.

Murray tak patah arang. Secara perlahan, dia mulai bangkit untuk mengejar Nadal hingga kedudukan 4-5. Tetapi, Nadal, yang hanya butuh satu poin lagi untuk memenangi set pembuka ini tak mau menyia-nyiakan peluang ketika memegang servis, untuk mengakhirinya dengan kemenangan 6-4.

Pada set kedua, laga semakin seru karena terjadi tukar-menukar break. Nadal lebih dulu melakukannya di game kedua, tetapi langsung dibalas Murray, begitu pun pada dua game selanjutnya, yang membuat skor imbang 5-5. Di game ke-11, Nadal kembali membuat break, dan inilah titik yang membuatnya meraih kemenangan set kedua karena ketika memegang servis, dia berhasil mengamankan poin.

Di set ketiga, Nadal mengawalinya dengan break dan selanjutnya unggul 2-0 setelah mendapatkan poin ketika memegang servis. Di sinilah letak kemenangannya, karena setelah itu kedua petenis ini tak pernah kehilangan poin saat memegang servis.

Nadal mengakhiri laga tersebut dengan forehand menyusur garis (down the line), di mana bola pengembalian Murray menyangkut di net. Pemain berusia 25 tahun ini pun langsung meluapkan kegembiraannya dengan melompat karena berhasil memastikan diri maju ke final.

Peliculas Online

Jelang Final Perancis Terbuka 2011, Ini Kesempatan Kedua Li Na

Jelang Final Perancis Terbuka 2011, Ini Kesempatan Kedua Li Na. Li Na memiliki kesempatan kedua untuk menorehkan tinta emas dalam sejarah tenis benua Asia, setelah memastikan diri maju ke final Perancis Terbuka. Dia akan menjadi petenis putri pertama dari benua kuning ini yang mampu merengkuh trofi grand slam, jika bisa mengalahkan petenis Italia, Francesca Schiavone, pada final yang berlangsung Sabtu (4/6/11).

Sebelumnya, pemain berusia 29 tahun tersebut mendapat kesempatan pertama di Australia Terbuka bulan Januari lalu. Sayang, ambisinya itu dipupuskan petenis Belgia, Kim Clijsters, yang mengalahkannya di final.

Kali ini, Li Na menghadapi lawan yang sepadan, yang memiliki pukulan keras. Apalagi, Schiavone merupakan juara bertahan, dan sedang mengincar prestasi sebagai pemain keenam yang sukses pertahankan gelar di lapangan tanah merah Paris, sejak tenis profesional digelar pada 1968.

"Ini adalah sesuatu yang penting bagi tenis China. Mereka akan menayangkan secara langsung pertandingan tersebut di televisi," ujar Li Na, yang menjadi unggulan keenam di Roland Garros ini.

"Saya datang ke lapangan dengan lebih percaya diri. Anda harus yakin bisa melakukannya.

"Saya tidak tahu berapa banyak yang bisa saya lakukan untuk tenis China, tetapi saya tahu bahwa jika seseorang melakukannya dan berhasil sampai final, maka para anak muda akan berkata 'mungkin saya sendiri bisa melakukannya'. Saya berharap tenis di China akan semakin berkembang," tegas Li Na, yang pukulannya semakin bagus, terutama stroke yang flat, serta piawai dalam menggabungkan spin dan slice.

Misi Schiavone

Tekad yang kuat dari Li Na untuk membuat tenis semakin terkenal di China, dan memberikan kebanggaan kepada orang Asia pada umumnya, akan mendapat perlawanan dari misi pribadi Schiavone. Unggulan kelima tersebut ingin menyejajarkan dirinya dengan Margaret Smith Court, Chris Evert, Steffi Graff, Monica Seles dan Justine Henin, yang berhasil pertahankan Suzanne Lenglen Cupsejak 1968.

"Saya (sekali) kalah di perempat final turnamen wanita di sini," ujar pebalap berusia 30 tahun tersebut.

"Selama pekan itu, di sana terjadi sebuah pertandingan besar, Graf lawan Seles, dan saya ingat bahwa saya ingin mengambil sebuah gambar. Setiap tahun sebelum saya ke sini, saya melihat gambar tersebut."

Menghadapi Li Na, Schiavone akan mengandalkan kombinasi slice backhand dan spin forehand. Ini ditengarai bisa menjadi senjata ampuh untuk meredam kekuatan Li Na.

"Saya bermain bola, slice dan top spin. Dia bermain dengan lebih mengandalkan tenaga," ujar Schiavone.

"Tetapi, kuncinya mungkin konsistensi dan serangan atau bermain lebih dalam. Hal-hal yang kecil bisa membuat perbedaan."

Mengenai siapa kandidat juara, petenis Perancis Marion Bartoli mengatakan, Schiavone lebih berpeluang. Menurutnya, pemain Italia tersebut termasuk tipikal petenis lapangan tanah liat.

"Francesca merasa sangat bagus di sini. Dia sangat nyaman pada tipe lapangan tanah merah... itu membuat bola spin-nya sangat menyulitkan sehingga Li pasti sulit meladeni permainannya, apalagi dia senang lawan yang memainkan bola flat," ujar Bartoli, yang dikalahkan Schiavone di semifinal.

"Juga, Francesca sudah menang di sini sedangkan Li tidak dan kurang berpengalaman. Itu mungkin menjadi keuntungan bagi Francesca."

Peliculas Online